Untuk Mentari di Ufuk Timur

Sebuah sajak tentang kehilangan dan ketidakpastian masa depan, dengan mentari dalam personifikasi.

Advertisements

Ini untukmu, mentari

Kuucapkan terima kasih atas kesetiaanmu terbit setiap hari

di belakang rumahku, menyusup

di balik gema suara azan dari Mesjid Al-Burhan

 

Sayup-sayup kulihat semburat merah jingga

seakan menyuruhku terjaga dan bersemangat menanti pagi

hembusan nafas mengucap syukur atas udara tanpa polusi

dan dingin yang masih sudi membuat bulu kuduk berdiri

 

Tahukah kamu, mentari

Ingin rasanya aku menukar masa depanku hanya untuk menikmatimu

dalam bayangan secangkir susu cokelat buatan ibu

dalam pelukan hangat dan kecupan berbahasa kalbu

 

Tahukah kamu, mentari

Mungkin nanti aku tidak bisa melihatmu lagi

Aku akan pergi jauh, mencoba menikmati mentari baru di tempat asing

tempat aku mencoba menggapai mimpi, menjadi orang besar

meskipun aku tidak akan pernah melupakan sinarmu

yang muncul dari balik Gunung Manglayang

 

Mentari,

aku ingin seperti ini selamanya

diriku, dirimu, dalam kerapatan pohon bambu

Inilah hidup yang selalu aku tahu, yang tidak ada keraguan tentangnya

 

Walaupun aku telah melihat dunia baru

tempat daun berguguran dan pohon-pohon tinggal kerangka

dulu aku tidak pernah tahu, tidak pernah yakin akan sampai ke situ

tapi jalan hidupku telah membawa kejutan lebih dulu

 

Kini

ketika aku melihatmu lagi setelah sahur

seperti yang selalu kulakukan di tahun-tahun lalu

aku dirasuki perasaan ketakutan dan ketidakpastian

Mungkinkah aku masih disini, Ramadhan yang akan datang?

Mungkinkah aku masih bisa melihatmu dalam keremangan subuh?

Atau mungkin aku hanya bisa berharap agar kau muncul dalam petualanganku yang baru

di negeri yang jauh, di hutan belantara, di pinggir kapal laut

atau dalam kebusukan kota dengan gedung menjulang

 

Atau siapa yang tahu

mungkin aku akhirnya menemukan kehangatan baru

yang kutulis dalam bahasa puisi, seperti yang kutulis untukmu

dalam bait-bait seperti:

 

Ini untukmu, imamku

Jika suatu saat nanti kau datang melamarku

dengan kegagahan Sayyidina Umar di medan perang

Kumohon jagalah aku

sebagaimana aku akan menjaga keturunanmu

memastikan mereka mewarisi dan mewujudkan bakat-bakatmu yang terpendam

melalui jemari dari jiwa-jiwa suci

————————————————————————————————————————-

Ini untukmu, mentari di ufuk timur

yang senantiasa memberi harapan

pada kekosongan yang diselimuti malam

menyisakan kepastian akan kebenaran

dan keraguan akan mimpi yang berpendar dalam kehangatan

Bandung, 27 Ramadhan 1433 H

Author: mfaradina

An Indonesian. A reliable realist outside yet a romantic dreamer at heart.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s