You and I

Just listened to 8tracks and found this song by Tyler Brown Williams, titled “You and I”.

And I bet you’ll like this mix πŸ™‚

Click on the image to listen to this mix

 

Like a bird needs the air
Like a flower needs the earth to care
I need you.
Like the sun needs the moon
Like an orphan needs an extra room
I need you.

Come on baby, let’s fly away
To higher skies and watch the world go by.
It’ll just be you and I.
And when the soldiers come seven high
I’ll take your hand and collide it with mine
And everything will feel so right.

And like the stars need the sky
Like a hello always has goodbye
I need you.
And like a child needs your touch
I don’t think I’m asking too much
To be with you.

Come on baby, let’s fly away
To higher skies and watch the world go by.
It’ll just be you and I.
And when the soldiers come seven high
I’ll take your hand and collide it with mine
And everything will feel so right.

And nobody said that love was easy
But nobody said it’d be this hard
And I should’ve known from the beginning
Oh that missing you is the hardest thing to do.

So come on baby, let’s fly away
To higher skies and watch the world go by.
It’ll just be you and I.
It’s silly hunny to say goodbye
So take my hand and let’s enjoy this ride.
Cause everything is oh, so right.

Like the sea needs the sand
My hand is desperate for you hand.

Advertisements

Husband Qualities 2012

Oke oke gue tau ini agak gimana gitu topiknya. And bear in mind that I’m still a happy 20 years old single girl. Blame my “home alone” state on a Saturday night. Tapi tapi… gak apa-apa kan ngepost beginian di blog sendiri? Siapa tau ada yang baca dan memenuhi kriteria terus langsung dateng ngelamar gue. Kidding. Amin. *loh?*

Kenapa “husband qualities”? Saat ini topik ini agi hot issue banget diangkat dimana-mana di kehidupan, kayaknya udah waktu yang tepat untuk mulai membayangkan masa depan yang lebih serius, ga cuma buat temen jalan, iya gak sih? (referring to Monce‘s)

Anyway, inilah 15 kriteria calon suami idaman gue versi November 2012. Kenapa pake versi segala? Karena bisa aja kriterianya berubah seiring bertambahnya umur atau berubahnya keadaan. Btw kriteria ini mencakup kriteria umum yang disetujui secara mufakat oleh temen-temen gue, dan ada beberapa yang personal preference gue sendiri. Bolehlah dijadikan referensi buat para cowok di luar sana, karena ini ditulis berdasarkan survei horizontal yang lumayan mewakili populasi. πŸ˜› Oh ya, “idaman” berarti gambaran sempurna, dan gue fully aware kalo sempurna berarti ada kemungkinan tidak bisa tercapai. Tapi namanya juga do’a, minta yang terbaik. πŸ™‚

1. Seiman, seagama

Kalo kata Nana di salah satu sesi curhat nista sama Reinhardt dan gue, seleksi jodoh itu ada 2 tahap: Seleksi Administratif dan Seleksi Substantif. Nah, agama termasuk poin sangat penting di Seleksi Administratif. Buat gue, saat ini gue ga mau romantically intertwined sama cowok yang beda agama. Gue pernah sih mengalami keadaan inter-faith relationship, tapi menurut gue sekarang udah bukan saatnya gue ngambil resiko fundamental. Sayang sekali… ada beberapa cowok di lingkaran pertemanan gue yang sangat oke tapi beda provider. Yah tapi sekarang gue mencari sosok imam buat keluarga gue di masa depan.

2. Rajin beribadah

Terserah lah jaman sekarang orang mau liberal terus atheis ato gimana. Itu pilihan hidup masing-masing dan gue menghargai freedom of choice. Tapi buat gue, “beragama Islam” aja ga cukup… calon suami gue haruslah orang yang taat beragama dan rajin beribadah. Shalat 5 waktu jangan tinggal supaya bisa ngemotivasi gue rajin shalat juga :P, puasa wajib (lebih kyaa lagi kalo puasa sunnah juga), zakat, syukur-syukur udah umrah atau naik haji. Kalo seorang cowok deketin gue dan dia gak shalat, untuk saat ini gue akan mikir 2 kali mau ngejalanin hubungan serius sama dia.

3.Laki-laki baik-baik

Kalo mau jadi pemimpin keluarga yang bener, masa orangnya ga bener? Calon suami gue selain rajin beribadah juga jangan sampai minum-minuman keras, narkoba, dan seks bebas. Entahlah, gue bukan tipe orang yang betul-betul percaya sama second chance. Kalo temen oke lah, tapi untuk jadi suami, sekali gue tau orang itu demen melakukan hal-hal ini, respek gue akan berkurang drastis. Oh, dan kalo bisa, kalo masih ada di dunia ini, semoga dia gak ngerokok. I can’t stand being deket perokok karena… sesak napas. Beneran karena health issue. 😦

4. Sayang keluarga

Kenapa? Kalo seorang anak cowok punya hubungan yang baik dengan ibu-bapak dan saudara-saudaranya, Insya Allah dia akan menjadi family man yang baik juga.Β Dan ini adalah kriteria yang sangat gue idamkan dari sosok seorang suami: sayang istri, sayang anak, setia sama keluarga. Lebih oke lagi kalo dia dateng dari keluarga bahagia yang terbiasa hidup dalam kehangatan, karena ini berarti dia adalah produk dari suatu proses yang bisa dipertanggungjawabkan (oke gue mulai teknik kimia-ish).

5. Punya visi hidup yang jelas

Okay, I get it. We’re still young, we’re living wild and free. Tapi untuk jadi suami, seorang cowok menurut gue gak bisa punya visi hidup yang cuma buat main-main aja, hidup gimana besok. Gue akan sangat jatuh cinta sama orang yang punya plan jelas untuk hidup 5 taun ke depan, misalnya. Be it mau kerja dimana, mau S2 ngambil apa dan setelah S2 mau ngapain, ato kalo mau bisnis mau bisnis apa dan prospeknya gimana, gitu.

6. Pekerja keras

Perempuan mana yang gak mau punya suami seorang pekerja keras? Well, ada aja sih, tapi bukan gue. Gue terbiasa bekerja keras dari kecil, bahkan untuk dibeliin kertas loose leaf Barbie seharga Rp 500 waktu kelas 1 SD, gue harus ranking 1 dulu. Mental pekerja keras adalah mental yang gue harapkan ada dalam diri calon suami gue. Ini akan berkorelasi positif dengan visi hidupnya. And let’s say it, hard workers are sexy.

7. Pintar

Gue tidak mensyaratkan IPK >= 3,5 sebagai kriteria suami idaman gue. Serius deh. But aren’t intelligent man hot? Kalo dia berpengetahuan luas, rajin update berita-berita nasional dan internasional, kuliah dengan serius dan menguasai hal yang menjadi ke-khas-an jurusannya, kan jadi enak kalo ngobrol gak akan kehabisan bahan omongan. Semua orang yang pernah singgah di kehidupan percintaan gue adalah cowok pintar, tapi bukan hanya secara akademis. Kenapa? Karena dalam suatu hubungan percintaan, salah satu value yang sangat gue hargai adalah kesempatan melakukan diskusi-diskusi yang bermanfaat. Seorang suami akan menjadi pengambil keputusan bersama istrinya. Kalo suaminya bego, istrinya mau minta pendapat ke siapa?

8. Tidak temperamental, kasar, main hajar

Pernah denger domestic violence? Yap, kekerasan dalam rumah tangga adalah suatu hal yang naudzubillahimindzalik jangan sampai terjadi dalam rumah tangga gue di masa depan. Dalam bayangan gue, suami idaman haruslah merupakan seorang yang sabar dan berkepala dingin dalam memecahkan masalah. Tentu, istrinya juga harus pinter-pinter me-manage konflik. Misalnya kalo gue udah berkeluarga, gue ga akan dikit-dikit ngeluh kayak waktu gue pacaran jaman SMA, atau dikit-dikit ngadu ke twitter kayak sekarang. Soalnya orang kan capek dengerin keluhan orang lain, apalagi kalo yang dikeluhin itu-itu aja jadinya annoying. Sekarang sih gue masih single bebas-bebas aja mau berkicau kayak gimana. Kalo udah ada pasangan apalagi nikah, wah itu sih lain cerita. Mening selesaikan konflik langsung aja, duduk bareng cari pemecahannya, daripada berlarut-larut.

Nah sekarang masuk seleksi substantif ya. 8 poin di atas adalah poin-poin yang bisa dibilang wajib ada dalam kriteria suami idaman gue, bisa dibilang berarti orangnya udah lolos seleksi administratif. Kalo yang setelahnya, ini sih optional, gak ada juga gak apa-apa hehehe.

9. Background ekonomi oke

Jangan buru-buru ngecap gue cewek matre. Gue gak nyari pacar ato calon suami yang harus bawa mobil bagus. Gue oke-oke aja kok pacaran sama cowok yang naik motor, malah gue pernah malem mingguan sama seseorang naek angkot aja dan tetep asik. Zeriuz pake zet. πŸ˜› Ini lebih ke pertimbangan keluarga aja. Ya biasalah ibu-ibu, maunya anak cewek dapet orang yang gak susah-susah amat. Tapi kalo buat gue ya, lebih baik cowok dari level ekonomi biasa aja yang mau banting tulang daripada cowok dari level ekonomi mapan yang terbiasa ngehamburin duit orang tua. Gue pernah deket sama cowok EM. Terus hobinya belanja yang ga penting, yang buat gue harusnya bisa ditabung ato diinvestasiin kemana gitu, duit segede itu loh. πŸ˜€

10. Gak punya banyak adek

Buat gue, limitnya punya adek maksimal 3 lah adeknya. Yang penting bisa hidup cukup dan bahagia, kebutuhan anak-istri terpenuhi, adik-adik juga terpenuhi. Hahahahaha πŸ˜€

11. Tapi preferably bukan anak tunggal juga

Mungkin agak menggeneralisasi, tapi hal yang paling gue takutkan dari anak tunggal adalah mereka menjadi terlalu dominan karena terbiasa ga punya pesaing dalam keluarga. Selain itu, supaya pas lebaran rame bisa dateng ke saudara-saudaranya, hehe. Ato mungkin karena gue pernah mengalami hubungan yang gagal dengan anak tunggal, hmm. Tapi sebetulnya ini bukan kriteria yang saklek kok…gue tetep mau-mau aja kalo jodoh gue ternyata anak tunggal asal memenuhi kriteria-kriteria lainnya.

12. An Engineer

*updated on Oct 2013:

Any engineer, regardless of university, will do. Karena turns out cowok ITB pada takut sama gue -__-, dan cowok ITB belum tentu juga jadi engineer yang kerjanya memangΒ engineering. Pas gue bikin ini, gue masih kuliah pengennya yang sekampus.Β Sekarang gue udah lulus maunya yang realistis aja, yang penting bisa bikin estimasi masa depan bareng-bareng pake variabel-variabel bersama *azek

Gue mau nggak mau teringat kata-kata Ibu Karen Agustiawan di FTI Motivation Day 2010 yang gue yakin sampai sekarang sangat diingat oleh sebagian besar cewek FTI ITB 2009:

Cewek ITB itu sebaiknya cari suami anak ITB juga. Karena cuma mereka yang bisa mengerti kita.

Tadinya gue mikir ah yaudalah jodoh mah dimana aja mungkin juga ga di ITB. Tapi sekarang…… how I wish to marry an ITB man. Those engineering calculations have gotten so deep not only into my head but also into my heart. Gue yang sekarang adalah gue yang lebih rasional kalo mempertimbangkan sesuatu, ga mau wasting time buat hal-hal ga penting (well, except now when I’m taking a break, hehe), dan cenderung mengarah ke workaholic, even sometimes bite more than I can chew. Kalo ga sama anak ITB… mau gak dia ngerti kalo gue ga bisa ketemuan karena mau ikut acara himpunan, atau lab, atau ada latihan unit, atau gue pulang di atas jam 10 malem sama serombongan cowok, atau nginep di kosan temen yang kadang sama bro-bro juga buat belajar bareng, terus pulang subuh? Yang paling nyesek sih kalo misalnya cowok gue adalah orang yang jauh lebih santai dari gue, santai dalam arti hidupnya ga bermakna gitu. Kuliah cuma berapa jam seminggu, sisanya main, main, main, ketawa gosip berjam-jam tiap hari kayak kisah-kisah anak univ X. Ga tau, rasanya aneh aja. Aneh ga sih? 😦 I really don’t mind having a relationship sama orang sibuk, asal sibuknya buat hal-hal yang bermanfaat. Toh gue gak pernah mau jadi cewek ngoyo juga yang ga bisa hidup tanpa pacar.

Lagipula, kalo dari sekarang udah sibuk buat hal-hal yang baik, menurut salah satu temen gue itu juga jadi semacam latihan. Latihan kalo di masa depan harus ditinggal kerja di mana gitu, latihan jaga komunikasi dan tanggung jawab meskipun dua-duanya sama-sama sibuk. Gitu sih katanya, dan gue sedikit-banyak setuju. πŸ™‚

13. Gentleman

Kenapa lucky the thirteen banget sih gentleman hahaha :D. Kenapa optional? Yah, abis gue hopeless sama betapa tidak gentlemannya cowok-cowok sekarang. Gentleman-nya as in taun 80an gitu… dimana women empowerment belom sekenceng sekarang hehe. Simple and small things lho being a timeless gentleman itu. πŸ˜€ Bukain pintu kalo cewek mau masuk mobil, bawain tas ato barang bawaan lainnya yang terlihat berat (kecuali ceweknya nolak), nyebrangin pas di jalan gede, dengerin 5 menit aja kalo cewek lagi ngeluh… simple kan?

14. Physically attractive

Ini kayak jaman SMP-SMA banget sih gue nulis ini. Kriterianya sudah bergeser kok, he doesn’t have to be a basketball MVP with killer abs. Ganteng itu relatif, yang penting ga malu-maluin, bersih, rambut rapi ga usah sok-sok ngikutin artis Korea tapi gagal, pokoknya looking professional dan gak urakan. That’s my preference sih, ga tau ya orang lain. πŸ˜›

15. Can play musical instruments

Oke ini sangat sangat sangat optional. Gue sendiri gak bisa main alat musik apa pun, ga ada bakat sama sekali mau dicoba ikut les kayak apa juga. But I know I’ve always dreamed of loving a musician. Awalnya dulu waktu SMP gue pernah di-gitarin gebetan di suatu sore dengan rintik hujan pake soundtrack 50 First Dates (ceilah). I don’t know, lucu aja gitu if you could sing along together diiringi permainan musik orang yang dicintai. Urgh, I’m being cheesy. Whatever πŸ˜›

Sekian 15 kriteria calon suami idaman saya. Feel free to comment on anything. Listnya masih bisa direvisi kok hahahaha.

Selamat malam minggu! πŸ™‚ πŸ™‚

Cerita Tentang Reuni

One funny thing about reunion is that you see someone new. Padahal itu orang yang sama yang lo kenal bertahun-tahun lalu, yang main sama lo, yang berantem, musuhin geng lain, dapet ranking, dan duduk sebangku sama lo. Setelah tahun-tahun berlalu, mereka menjelma jadi gadis-gadis muda cantik dengan sedikit raut SD/SMP/SMA yang familier, dengan pembawaan yang berbeda, dengan gaya busana yang berbeda. They grow up, as what happens to you.

And so we talked all night about the rest of our lives
Where we’re gonna be when we turn 25
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same

Penggalan lirik di atas diambil dari lagu Graduation-nya Vitamin C, sebuah lagu yang populer buat High School students di USA pas hari kelulusan mereka. Well, jaman gue lulus SMA pun lagu ini jadi semacam soundtrack wajib sih, karena liriknya sangat relevan dengan keadaan waktu itu.

“Graduation” kembali terputar di otak gue minggu ini, saat dua reuni dengan teman-teman masa kecil diadakan mumpung long weekend. Reuni pertama adalah reuni yang gagal gue datengin karena urusan kuliah. Reuni ini sama geng-gong gue di kelas 2I SMP Negeri 5 Bandung: Manda, Nindy, Fanny, harusnya tambah Afish sama Tanita. Reuni kedua adalah reuni mendadak yang terjadi dengan “perencanaan” sehari sebelumnya sama salah satu bagian geng 4Animals gue waktu di SD Banjarsari, Sasfia aka Sapy. (bytheway, yaya nama geng SD gue alay super duper ngaco, meenn anak SD gitu!). Kalo 4Animals lengkap, harusnya ada Nindy sama Agustina juga.

No more hanging out cause we’re on a different track
And if you got something that you need to say
You better say it right now cause you don’t have another day
Cause we’re moving on and we can’t slow down
These memories are playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in June
I didn’t know much of love
But it came too soon

One funny thing about reunion is that you see someone new. Padahal itu orang yang sama yang lo kenal bertahun-tahun lalu, yang main sama lo, yang berantem, musuhin geng lain, dapet ranking, dan duduk sebangku sama lo. Setelah tahun-tahun berlalu, mereka menjelma jadi gadis-gadis muda cantik dengan sedikit raut SD/SMP/SMA yang familier, dengan pembawaan yang berbeda, dengan gaya busana yang berbeda. They grow up, as what happens to you.

Reuni selalu menyenangkan karena lo bisa catch up satu sama lain. Meskipun gue ga dateng reuni 2I, gue kebayang banget Nindy cerita tentang kuliah dia di Hukum UNPAD, padahal dulu gue inget waktu SMP, nyokapnya yang notaris bilang Nindy jangan masuk hukum. Fanny pasti cerita tentang kehidupan dia setelah jadi Sarjana Manajemen dari SBM ITB (gila ga kerasa temen gue udah sarjana), dan Manda yang sekarang kuliah Manajemen juga di Unpar. Sama halnya dengan reuni gue dengan Sapy yang sekarang kuliah di Kedokteran UNPAD. Dan gue yang sekarang kuliah di Teknik Kimia ITB.

Meet Fanny (in black), Manda (in white), and Nindy (in blue)

And there was me and you
And then we got real blue
Stay at home talking on the telephone
And we would get so excited and we’d get so scared
Laughing at ourselves thinking life’s not fair
And this is how it feels

Reuni adalah saat langka dimana lo bisa mengetahui kehidupan orang yang sebelumnya selalu konstan ada di kehidupan lo. It’s like they appear out of thin air. Sebelumnya lo selalu tau siapa gebetan terbaru mereka, karena jaman SD-SMP dulu girl gang lo pasti nelfon berjam-jam cerita tentang si cowok X. Lucu kalo dipikir-pikir dulu gue pernah suka sama seorang cowok selama 7 tahun, semua girl gang gue bilang udah lepasin aja, tapi gue bersikeras ga akan pernah bisa lupain dia sampe kapan pun. Sekarang gue kalo ketemu cowok ini biasaaa banget, gue bisa nyapa dia dengan santai kayak ga pernah ada rasa, padahal dulu ketemu dan disapa 5 detik aja bisa bikin gue senyum sehari kayak orang gila.

Lucu saat gue inget Sapy dulu pernah pacaran sama seseorang waktu kelas 2 SMP. Lucu saat gue diceritain mantan-mantannya yang ternyata sekarang udah jadi begini dan begitu. Ada yang bener, ada yang ga bener. Begitu juga yang selalu terjadi saat gue reunian sama Manda beberapa bulan lalu. Bisa dibilang gue adalah ensiklopedi berjalan yang hafal semua cerita tentang pacar-pacarnya, dan begitu juga dia yang hafal semua cerita tentang semua cowok yang pernah singgah di kehidupan percintaan gue.

Reuni membuat lo sadar betapa waktu berjalan sangat cepat. Sekarang Sapy udah nyusun skripsi tentang Public Health dan Maret Insya Allah akan co-ass. Tanpa terasa gue Insya Allah lulus tahun depan padahal rasanya baru kemaren lulus ujian masuk ITB. Adik-adik Sapy dan Agustina yang dulu masih anak kecil kelas 2 SD saat kami petantang-petenteng dengan seragam SMP, sekarang udah tumbuh jadi anak SMA, padahal rasanya masa SMA baru gue tinggalin beberapa waktu lalu.

So if we get the big jobs
And we make the big money
When we look back now
Will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school?
Still be trying to break every single rule
Will little brainy Bobby be the stockbroker man?
Can Heather find a job that won’t interfere with her tan?
I keep, keep thinking that it’s not goodbye
Keep on thinking it’s a time to fly
And this is how it feels

Reuni membuat lo sadar kalo lo sudah akan sedang menjadi orang dewasa. Temen-temen gue yang dulu disetirin emak bapaknya sekarang udah bawa mobil sendiri. Pembicaraan kita beralih dari sekedar siapa gebetan saat ini sampe hubungan serius: tunangan, pernikahan. Kita mulai membicarakan tentang kriteria suami idaman, betapa pacaran sekarang gak semudah dulu dimana requirementnya cuma saling cinta. Cerita-cerita mulai mengarah ke perencanaan masa depan. Mau kerja dimana, mau lanjut S2 dimana, mau nikah umur berapa, bahkan mau punya anak berapa dan apakah mau jadi wanita karir atau ibu rumah tangga aja.

Meet me and Sapy (now with hijab)

Reuni adalah saat dimana lo melakukan refleksi diri, dan merasa sangat beruntung lo punya temen-temen untuk berbagi. Orang-orang yang menjadi saksi perkembangan lo dari kecil sampe sekarang dan melalui semua fase kehidupan yang lo rasakan bersama-sama. Reuni membuat gue bersyukur mereka masih ada untuk gue, bersama-sama saling menguatkan dalam melalui masa krisis twentysomething ini. Dengerin cerita anak-anak berprestasi ini membuat gue selalu terpacu untuk maju dan melakukan yang terbaik untuk meningkatkan kualitas diri. Dan untuk semua itu, gue sangat bersyukur. Alhamdulillah.

As we go on
We remember
All the times we
Had together
And as our lives change
Come whatever
We will still be
Friends Forever