Silhouette

The moment when you finally know that it’s not a myth. That this life is not yours to control.

Separation has never been easy. In engineering realm, it’s even one of the most important course in Chemical Engineering. We’re no stranger to heartache and pain, but letting go of something that you’ve so got used to is surely a daunting task.

It’s been two weeks. I haven’t been sad for a while. Every time I went out, there they were. Just like the good old days when we spent our nights with shitty calculations and tiny cheat sheets. I knew I had always known where I could barely go with my puffy eyes or nonsense stories. There were always the ears that would stay listening to whatever I blurted out.

Ever since last year I’ve been hypnotizing myself that this is all just a myth. A nightmare that I refused to be drown in. Look, they are always here. Their presence can never evolve into past tense. I just simply couldn’t put down this fear of grief I knew would soon follow the hollow. But no matter how hard I try to deny, the time eventually comes. The last visits. When they packed things up and said goodbye. When I hugged them for the last time. When I came to their dorms feeling like the walls resonated in the same sadness, echoing every story and memory that were once made in its territory. When I saw teary eyes that were tried to be hidden. When I felt the same feeling of heavy hearts, the hearts that have been attached to the same soil of this beautiful city, where youth was once celebrated. Where everybody was free to be what they wished to be. Where judgments were based on meritocracy. Where dreaming has always been allowed, no matter how wild and uncontrolled.

There’s just a binding sense of belonging that you can never let go. Like a silhouette that possesses.

I’m a silhouette asking every now and then
“Is it over yet? Will I ever smile again?”
I’m a silhouette chasing rainbows on my own
But the more I try to move on, the more I feel alone

Owl City – Silhouette

Spot On

Maka ketika engkau mengatakan “Waah.. enak ya bisa a, b, c, dan d..” yakinlah bahwa semua itu tidak lahir dan datang sendiri, pasti itu merupakan buah dari ikhtiar yang telah dijalani. Karena kau tidak menyaksikan keletihan dan kepayahan mereka, kau tidak merasakan beratnya usaha dan ujian yang menerpa. Yang kau lihat hanya hasil di penghujung akhir. Maka tanamkan konsekuensi bahwa dirimu pun harus terus berlari mengejar mimpi. Sesekali terjatuh, terseok, perih, janganlah engkau sesali. Teruslah meminta pada Dzat Yang Maha Tinggi, hingga keridhaan-Nya yang akan selalu menemani hari..

Sekecil apa pun kerikil yang kamu temui hari ini, bersyukurlah dan jalanilah dengan ikhlas sepenuh hati. Berbaik sangkalah atas ketetapan Ilahi. Hingga ia menunjukkan kebesaran-Nya atas kepasrahan diri. Janganlah menyerah sebelum bendera hasil akhir dikibarkan, karena jika Allah telah berkehendak, Ia akan menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Ialah yang membangun asa menjadi nyata. Maka dekatilah Ia, pintalah pada-Nya, dan warnailah semua dengan taqwa..

 

disadur dari tulisan Shabrina, Mapres SITH 2013

 

Spot on. I need this. Thank you 🙂

Pengingat

Terkadang, manusia lupa bersyukur.

Terkadang, kehidupan mendorong seseorang dengan sangat keras, kasar, dan menyakitkan. Padahal logikanya, suatu dorongan akan membuat manusia tersebut berpindah tempat. Seringkali, perpindahan tersebut diasosiasikan dengan kemajuan.

Manusia itu bebal. Tidak peduli betapa banyak nikmat yang telah diberikan oleh Sang Pencipta, selalu ada yang kurang. Selalu ada lubang. Selalu ada yang harus ditambal. Semakin banyak dilihat, semakin buruk lukisan yang ditampilkan oleh mata. Semakin banyak dipikirkan, semakin banyak kekecewaan yang terbentuk.

Manusia selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, tanpa sadar bahwa ada, bahkan banyak, manusia lain yang ingin menjadi dirinya.

Saya sering merasa bahwa Tuhan adalah seperti orang tua yang memiliki banyak anak bandel. Ajaibnya, Dia sabar sekali menghadapi semua keluh kesah dan ketidakpentingan anak itu. Tentu, menurut ajaran agama saya, Tuhan tidak memiliki anak dan tidak diperanakkan. Ini hanya analogi saja.

Saya pikir saya adalah salah satu ‘anak nakal’ itu.

Dan Tuhan tidak pernah menyerah terhadap saya. Bahkan saat saya terlalu putus asa, malas shalat, bablas shalat, puasa setengah hati, dan zakat yang bisa dihitung dengan jari. Bahkan saat saya mengutuki nasib dan iri terhadap orang lain. Bahkan saat saya makan hati karena kekesalan saya sendiri, dan berpura-pura bahagia atas hal-hal yang seharusnya memang membuat saya bahagia.

Tidak pernah cukup.

Padahal Dia tahu mungkin ini belum saatnya. Entah sudah berapa kali saya gagal dan jalan saya ditutup, hanya dalam kurun waktu 6 bulan sejak tahun 2013 bergulir. Saya frustrasi, marah, kecewa, dan tidak percaya atas kebaikan yang dijanjikan. Padahal, dengan sedikit kesabaran dan keikhlasan, seorang manusia seperti saya akan merasa jauh lebih baik.

Ketika saya mengejek-Nya, Dia masih berbaik hati memberikan hiburan-hiburan bagi saya. Mungkin belum sesuatu yang grand, atau sesuatu yang life-changing, atau sesuatu yang betul-betul menyelesaikan permasalahan saya. Tapi hal-hal prikitilan tak terduga ini, cukup untuk membuat saya tersenyum sedikit.

Malu, karena bahkan dalam keadaan diberi gift, saya masih menemukan celah untuk berkeluh kesah.

Ampuni hamba-Mu ini, Tuhan.

Untitled
For some reasons, Ar Rahman is one of my favorite Surah in The Holy Qur’an. Allah knows that a human being like me, will always deny.