Pengingat

Terkadang, manusia lupa bersyukur.

Terkadang, kehidupan mendorong seseorang dengan sangat keras, kasar, dan menyakitkan. Padahal logikanya, suatu dorongan akan membuat manusia tersebut berpindah tempat. Seringkali, perpindahan tersebut diasosiasikan dengan kemajuan.

Manusia itu bebal. Tidak peduli betapa banyak nikmat yang telah diberikan oleh Sang Pencipta, selalu ada yang kurang. Selalu ada lubang. Selalu ada yang harus ditambal. Semakin banyak dilihat, semakin buruk lukisan yang ditampilkan oleh mata. Semakin banyak dipikirkan, semakin banyak kekecewaan yang terbentuk.

Manusia selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, tanpa sadar bahwa ada, bahkan banyak, manusia lain yang ingin menjadi dirinya.

Saya sering merasa bahwa Tuhan adalah seperti orang tua yang memiliki banyak anak bandel. Ajaibnya, Dia sabar sekali menghadapi semua keluh kesah dan ketidakpentingan anak itu. Tentu, menurut ajaran agama saya, Tuhan tidak memiliki anak dan tidak diperanakkan. Ini hanya analogi saja.

Saya pikir saya adalah salah satu ‘anak nakal’ itu.

Dan Tuhan tidak pernah menyerah terhadap saya. Bahkan saat saya terlalu putus asa, malas shalat, bablas shalat, puasa setengah hati, dan zakat yang bisa dihitung dengan jari. Bahkan saat saya mengutuki nasib dan iri terhadap orang lain. Bahkan saat saya makan hati karena kekesalan saya sendiri, dan berpura-pura bahagia atas hal-hal yang seharusnya memang membuat saya bahagia.

Tidak pernah cukup.

Padahal Dia tahu mungkin ini belum saatnya. Entah sudah berapa kali saya gagal dan jalan saya ditutup, hanya dalam kurun waktu 6 bulan sejak tahun 2013 bergulir. Saya frustrasi, marah, kecewa, dan tidak percaya atas kebaikan yang dijanjikan. Padahal, dengan sedikit kesabaran dan keikhlasan, seorang manusia seperti saya akan merasa jauh lebih baik.

Ketika saya mengejek-Nya, Dia masih berbaik hati memberikan hiburan-hiburan bagi saya. Mungkin belum sesuatu yang grand, atau sesuatu yang life-changing, atau sesuatu yang betul-betul menyelesaikan permasalahan saya. Tapi hal-hal prikitilan tak terduga ini, cukup untuk membuat saya tersenyum sedikit.

Malu, karena bahkan dalam keadaan diberi gift, saya masih menemukan celah untuk berkeluh kesah.

Ampuni hamba-Mu ini, Tuhan.

Untitled
For some reasons, Ar Rahman is one of my favorite Surah in The Holy Qur’an. Allah knows that a human being like me, will always deny.
Advertisements

Author: mfaradina

An Indonesian. A reliable realist outside yet a romantic dreamer at heart.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s