On The Verge of August

Hello, Summer.

God’s timing never fails. And there’s a reason behind everything. Nothing was made out of the blue, and nothing was actually made for nothing. Same thing goes with life. With big power, comes big responsibilities. These are the things that I failed to see in the last few months, especially during these brink of sunny days.

I thank everyone who has made Summer bearable. Especially my little cousin, baby Rayna who has successfully shed away any tear that otherwise might have fallen. I hope life will be better from now on. After all, sinusoidal curve has always been my most relevant of all curves. Tell that to Euclid.

Till then, I’ll finish studying for kompre. I’m determined to make my Japan trip free of worries, and I’ll have to study hard to accomplish that.

Hope I’ll blog from The Land of Rising Sun in less than a week.

See you soon! (Insya Allah)

Pic from here

P.S. I’m still hoping to find someone to love (and who loves me back) before 2013 ends. Who knows? Maybe he (whomever he is) may show up after Summer ends. Amin to that. I seriously have developed this attitude of “come what may” when it comes to love.

Advertisements

Pada Suatu Pagi

oleh Sapardi Djoko Damono

Gambar dari sini

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

Tentang Sabar

إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ (Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar)

Akhir-akhir ini gue sering banget merasa gak sabar. Seperti twentysomethings pada umumnya, ada banyak banget issues yang berkeliaran dalam kehidupan gue. Ga sabar nunggu takdir baik yang kok kayaknya gak dateng-dateng. Ga sabar pengen dapet kerjaan yang bagus dan cocok, pengen lulus, pengen ngerasain diarak keliling kampus, pengen dapet jodoh yang baik. Ya semuanya lah.

Kalo ditanya udah berapa kali gue gagal secara personal maupun profesional selama kurun waktu 2013, wah udah gak keitung. Sampe kadang gue amazed sendiri kenapa bisa sampe di titik ini, kenapa masih bisa survive. Alhamdulillah.

Orang lain mungkin ngeliat gue sebagai mapres, hebat, masa depan cerah, Ganbest. Ya gue amini, anggap aja didoain baik masa ditolak. Tapi kadang I cringe on how easy people perceive someone as successful without bothering to know apa yang udah gue korbankan, apa yang udah gue lakukan, apa yang udah gue perjuangkan. Bahkan ga banyak yang tau kenapa gue bisa sampe ngorbanin ga lulus Juli untuk sesuatu yang kosong. Masih sakit rasanya, walaupun gue tampak baik-baik aja.

Mungkin ini salah satu alasan kenapa gue ga pernah merasa bangga jadi mapres. Up until now gue masih merasa belom deserve untuk dihargai setinggi itu. Like, what have I done? Gue bahkan belom dapet kerjaan yang oke gitu, disaat semua orang bilang, “Ah lo sih pasti gampang lah ya” “Yaelah lo mapres gitu masa belom dapet kerja” dan ucapan-ucapan lainnya. Ga ada yang tau seberapa jauh gue udah gagal. Ga ada yang tau seberapa sakit hati gue setiap kali kegagalan itu datang. If I have the right to applaud myself, I won’t do so for being the best student out of 13,000 bachelor students in ITB. I will applaud myself for being able to manage my own feelings after being banished from happiness for uncountable number of times.

Pikiran-pikiran ini bikin gue merasa harus inget Innallaaha ma’asshaabirin. 

Kalo gue gak sabar, sabar menunggu segalanya yang udah ditetapkan sama Yang Maha Kuasa, gue pasti akan begini terus. Ga pernah bersyukur, selalu merasa kurang, selalu merasa menderita. I really, really have to learn to be a more positive person. Dan gue yakin sabar adalah salah satu kuncinya.

Capture
Sudah diingatkan di QS Al-Baqarah. Sudah diingatkan, memang manusia aslinya gak sabaran.