Perkiraan

Angin itu meniup satu perahu ke arah barat, dan satu perahu ke arah timur.

Karena, mungkin, ada kata sepakat yang akan terasa lebih sakit daripada ucapan perpisahan. Ada keyakinan semu bahwa dunia memang berjalan semestinya, dan mungkin, di suatu titik yang jauh, ada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan retoris nan fana.

Ada takdir yang telah ditulis oleh Sang Sutradara kehidupan. Ada garis yang harus diikuti, orbit-orbit tertentu yang harus dilalui satelit mini. Dan mungkin, Ia berpikir, memang belum saatnya.

Belumlah hadir. Apa gunanya mengulang semua proses dari awal? Ia berkata, belum tentu kau keluar hidup-hidup dan kembali pulih sepenuhnya. Bahkan saat ini pun ada lubang-lubang kecil yang belum tertutup, yang kadangkala masih terasa pedih dan sedikit bernanah.

Ada luka dalam jiwa yang tidak bisa disembuhkan. Ada pedih yang tidak lekang oleh waktu. Tapi ada pula manusia yang keluar dari pergumulan peluh penuh lumpur. Mencoba mencari kembali mentari, walaupun bayangan bulan tidak sepenuhnya terhapus dari pelupuk.

Ia selalu berkata ada saatnya. Janji-Nya. Dan Ia, sampai kini, sampai nanti, tidak pernah khianat.

Advertisements

Author: mfaradina

An Indonesian. A reliable realist outside yet a romantic dreamer at heart.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s