Self-Arranged Trip to China: Some tips before you go

Preambule

Dua bulan lalu gue pergi ke China tanpa ikut tur, cuma berdua sama kakak. Awalnya sempet takut juga sih karena kata orang-orang, susah banget pergi sendiri ke China. Tulisannya cang cing cong ga jelas, makanannya haram, informasi ga lengkap, dll. Well, personally, dari semua negara yang udah gue kunjungin, China memang salah satu negara yang paling susah buat ‘ditaklukkan’ 😀 but seriously, bisa banget kok survive di sana. Yaa walaupun mungkin gak segampang Jepang tapi sebanding lah, kalo udah berhasil travelling sendiri ke China pasti jadi pede untuk jalan-jalan ke negara lain, hehehe.

Berikut beberapa tips yang gue pelajarin dari trip kemaren, siapa tau berguna buat yang mau travelling ke China 😉

1. Mau ngunjungin China bagian mana?

China bagian mana
Bell Tower di Xi’an

Ini penting banget karena China itu LUAS yah bok! Gak mungkin lo dapet semuanya dalam sekali trip. For first timer sih gue sarankan untuk mengikuti rute gue: Xi’an –> Beijing –> Shanghai –> Hangzhou. Ini kota-kota yang “China banget”, dapet wisata sejarah+budaya, wisata alam, dan wisata metropolitan, so I highly recommend it. Gue cukup puas 10 hari muterin 4 kota itu, walaupun jadwalnya agak padat karena pengen dapet semua places of interest 😛

Kota lain yang suka jadi tujuan biasanya Chengdu, Zhangjiajie, Guilin, Huangshan, Yunnan, Harbin, dan Tibet. Tapi ribet ngurus visa nya kalo Tibet.

2. Bikin visa China

Bikin visa China cukup gampang, bisa datang sendiri dan pesen Single Entry – Regular Application dengan biaya Rp 540.000 dan selesai sekitar 4-5 hari kerja. Persyaratannya monggo di-Google 😛 yang paling penting adalah:

  • Itinerary (tanggal berapa kemana) harus dilampirkan
  • Tiket pesawat udah dibeli dan PDFnya diprint
  • Hotel udah dipesen, bukti reservasinya lampirin

Karena gue males ngurus bolak-balik Jakarta, akhirnya pake biro jasa. Worth it sih, gue bayar Rp 575.000 aja per visa di Dwidaya Tour Bandung. Selesainya sekitar 1 minggu.

Oiya visa China itu cuma buat Mainland China. Jadi lo gak bisa pake visa ini untuk ke Hong Kong, Macau, Taiwan, dan Tibet.

3. Hotel atau Hostel?

Gue pribadi lebih nyaranin tinggal di Hostel daripada Hotel. Kenapa? Simply karena orang China jarang banget bisa bahasa Inggris! Bahkan gue pernah baca suatu blog yang orangnya nginep di well-known chain hotel dan susah berkomunikasi sama resepsionisnya. Hostel di China biasanya memang lebih banyak dihuni sama foreigners, jadi resepsionisnya rata-rata anak muda yang bisa ngomong Inggris.

Dari review-review, kebanyakan hostel disini agak jorok, jadi gue kemaren takut nginep di Dorm Room. But the private rooms juga gak mahal kok, walaupun out of a backpacker’s budget. Bagi 2 sama kakak, total pengeluaran gue untuk akomodasi nyaman selama 10 hari cuma 1.5 juta 😛

Hostel
Private Room di Han Tang Inn, Xi’an

Hostel di China harganya berubah-ubah tergantung musim. Di peak season (April – Oktober), harganya bisa 2x lipat dari low season!

Semua hostel yang gue tempatin kemaren recommended (horeee!). Bersih, lokasinya sentral, <500 meter dari subway/halte bus, deket sama convenience store.

  • Xi’an: Han Tang Inn Hostel –> favorit banget! Baca aja review TripAdvisornya
  • Beijing: 161 Hotel –> ini bukan hostel sih sebenernya tapi entah kenapa masuk listing di situs pencarian hostel. Di sebelah hotel ada restoran halal lho.
  • Shanghai: Mingtown Nanjing Road Youth Hostel
  • Hangzhou: awalnya di West Lake Youth Hostel, tapi ternyata dia sudah tutup padahal lokasinya bagus banget deket Leifeng Pagoda 😦 akhirnya ke Mingtown Hangzhou International Youth Hostel
20160329_152332
West Lake di Hangzhou

4. Transportasi

Kalo di Xi’an, cari hostel deket Bell Tower. Sumpah lo tinggal jalan kaki aja ke hampir semua major attraction. Cape sih, tapi biar kurus dan sehat 😛 dan ada naik bus dikit paling ke beberapa tempat. Di Beijing, sebisa mungkin cari yang deket Subway dan cari yang gampang transfer ke Line 1. Banyak naik bus juga. Di Shanghai, carilah yang dekat Nanjing Road/The Bund, itu tinggal jalan banget kemana-mana. Naah kalo di Hangzhou ini agak tricky. Berhubung major attractionnya adalah West Lake dan danau itu jauh dari pusat kota plus GEDE BANGET TOLOOONG, option yang paling memungkinkan adalah sepeda dan jalan kaki sampe gempor (hiks). Tunggu cerita gue tentang masing-masing kota ini di postingan2 selanjutnya! 😀

20160322_125540
My twin brother and I at Terracotta Warrior

Transportasi di dalam kota

Ketika naik Subway, pastikan keluar dari Exit yang tepat supaya gak muter-muter. Bisa pake petunjuk Google Maps atau liat jalan yang deket tujuan kita di neon board.

Subway di China sangat ketat pengamanannya, selalu ada security scanner kayak di airport. Tapi bawa koper besar masih bisa kok, apalagi kalo tampang kita innocent, ga bakal ribet ditanya-tanya. Hehe. 😀

Transportation 1
Kakak gue di dalam Subway Beijing

Untuk naik bus, tunggu di bus station terdekat dan cari nomor bus yang dituju di papan. Kalo ada bus datang, liat neon sign di depan, ada nomor busnya (misalnya 602). Biasanya gue cari dulu di Google Maps, hitung perhentian kita ada di perhentian ke berapa, lalu hitung sendiri waktu di dalem bus. Soalnya semua tulisannya ga bisa gue baca, dan loudspeaker nya juga bahasa Mandarin. Di tempat-tempat populer, kadang ada beberapa bus stop. Selalu cek nomor bus terlebih dahulu di papan petunjuk.

Transportasi antar kota

Dari satu kota ke kota lain, bisa naik pesawat (maskapai lokal) atau kereta. Surprisingly, harganya kadang gak jauh beda lho. Sama-sama mahal. Hiks :(.

Jenis-jenis kereta dan kelasnya bisa diliat di sini.

Stasiun kereta di China ini gedeee banget kayak airport. Security systemnya juga kayak airport, jadi gue sangat menyarankan untuk datang ke stasiun 2 jam sebelum keberangkatan. Karena banyak banget pemeriksaannya.

Transportation 3
Stasiun kereta di Beijing yang gedenya kayak airport

Untuk menghemat biaya akomodasi, gue pake Soft Sleeper dari Xi’an –> Beijing dan Beijing –> Shanghai. Dari Xi’an itu gue dapet kereta T (kelas bisnis kali ya kalo di kita), jadi kasurnya agak keras. Kalo dari Beijing gue dapet kereta D, kasurnya empuk, lebih lebar dikit dan selimutnya fluffy~

5. Outfit + Cuaca

Jadi ternyata saudara-saudara, AccuWeather di hp itu tidak akurat! 😦 Gue pergi ke China akhir Maret. Waktu di Indonesia, si AccuWeather bilang Xi’an siang-siang 21 derajat Celcius. Ih gile kayak Bandung jaman baheula kan. Ternyata oh ternyata pas nyampe China, suhunya sekitar 12 derajat plus angin-angin setan yang bikin kakak gue langsung pilek 😦 untungnya pengalaman gue dengan winter mengatakan bahwa lebih baik overdressed daripada kedinginan, jadi gue udah bawa winter coat dan banyak sweater, which helped a lot! Selama masih winter/spring juga sering hujan, jadi bawalah payung.

Outfit 1
Kalo di selatan (Shanghai / Hangzhou) lebih anget, pake jaket juga cukup

Gue sarankan liat AccuWeather dari PC biar lebih detail, bisa juga liat ini. Buat cewek, bisa liat ini dan ini untuk referensi outfit.

Outfit 2
Kalo di utara (Xi’an, Beijing) lebih dingin, ini gue pake winter coat pun masih dingin :’)

Pakailah sepatu dan baju yang nyaman. Trust me, it works. Karena……… (jreeeng)

6. Nyusun itinerary

Taman, istana, temple, museum, dan hampir semua tourist spot lainnya di China adalah SANGAT LUAAAASSSS. Capek, capek banget sumpah ngejalanin semuanya tuh bagaikan menjalani kehidupan ini *tsah. No kidding. Orang China ini setiap Dinasti nya pengen bikin bangunan yang remarkable, jadilah semua dibangun dengan megah.

Itinerary 1
Temple of Heaven – Beijing. Untuk mencapai tempat ini tuh harus ngelewatin taman gede dan jalan jauuuh….

Untuk muterin 1 tempat aja perlu waktu tidak kurang dari 2 jam, jadi buatlah itinerary dengan mempertimbangkan semua ini. Belom lagi kalo ribet cari pintu keluar, salah keluar subway, nyasar, dan udah keburu gelap jadi takut mau ngeeksplor. Huft.

7. Makanan

This is it! *nyam nyam*

Menurut gue, regardless of Muslim atau nggak, cari makan di China itu gak susah kok. Di Xi’an, salah satu top attractionnya adalah Muslim Quarter yang deket sama Drum Tower. Sepanjang jalan ini, semua makanannya halal. Beijing juga banyak makanan halal (ditandai dengan papan restoran yang warna ijo tua atau ada tulisan Arab nya).

Food 2
Mie super asin di Muslim Quarter -__-

Tapiii kalo di Selatan (Shanghai dan Hangzhou), memang agak susah cari restoran halal. The best I could do adalah makan KFC/McDonalds/Yoshinoya, dan beli makanan pak yang dipanasin di microwave di convenience store (setelah dengan susah payah nanya pake isyarat tangan sama kasirnya apakah ini daging babi atau bukan….).

Food 3
KFC di Nanjing Road, Shanghai. Jangan ngarepin ada menu nasi ya, hahaha

Dimsum udah hampir bisa dipastikan isinya daging babi, kecuali mungkin mantau yang manis dan ga ada isinya. Kalo typical Chinese food, kayak semacam sapi/ayam lada hitam, gue sih gak saklek ya, asal bukan babi gue makan-makan aja. Entah bumbunya atau minyaknya pake yang haram atau nggak 😦 Alternatif lain adalah pesen menu vegetarian, biasanya sih aman, tapi jarang ada option ini.

Food 1
Sharing Chinese food sama strangers di Xi’an

8. Komunikasi

Poin terakhir dan yang paling penting adalah komunikasi. It didn’t help that my brother and I looked A LOT like Chinese, jadi diajak ngomong Mandarin mulu, malah ditanya alamat di Shanghai dan diminta KTP China sama security di Xi’an 😦

Orang China itu jarang banget yang bisa bahasa Inggris. And I have to add, mereka tidak terlalu ramah. Bukan tipe yang bisa diminta fotoin di spot lucu, dan jalannya terlalu cepet untuk dihentikan dan ditanya arah.

Kalau lo cuma bisa ngomong Xie xie doang kayak gue, life will be tough. It will. Tapi bisa disiasati dengan cara:

  • Selalu bawa tulisan alamat hostel dalam bahasa Mandarin. You’ll never know kalo tetiba nyasar dan harus nanya arah pulang.
  • Siapkan tulisan “Ayam”, “Sapi”, “Babi”, “Udang”, “Cumi”, kalo nyari makan dan ragu itu babi atau bukan, tanya pake bahasa isyarat sambil nunjuk tulisan.
  • Likewise, tulisan “Bus stop” dan “Subway” juga penting.
  • Last but not least, inilah kertas ajaib penyelamat semesta alam:
20160501_122457
Kertas ajaib! 😀

Internet Censorship

Ini poin super duper penting yang sering terlupakan. China mensensor hampir semua kebutuhan internet kita… yang without it we cannot live *lebay*. Wi-Fi hotel gak guna dah. Semua produk Google (Chrome, Maps, Gmail, Youtube, dll), WhatsApp, Line, Instagram, dan social media lainnya di-block. Katanya sih Path dan Yahoo bisa, tapi entah kalo sekarang di-block.

Berhubung gue gak se-petualang itu sampe bisa jalan-jalan tanpa Google Maps, gue mensiasatinya dengan cara langganan paket internet dari Indonesia. Gatau ya kalo operator lain, kemaren sih gue pake Telkomsel alhamdulillah lancar, gak ada sensor-sensoran. Mahal memang, selama 10 hari abis pulsa 700 ribu… tapi yah, gimana lagi? Daftar paketnya di *266# lalu ikutin aja petunjuknya. Pas di China, pilih operator China Unicom, koneksinya lebih stabil dan kenceng. KECUALI di Hangzhou. Itu gue udah putus asa karena semua operator sinyalnya E, dan hilang-hilang timbul. Sedih 😦 Kalo di 3 kota lain sih lancar jaya aman sentosa.

————————————————————————-

Okee sekian tips jalan-jalan ke China dari gue. Intinya kalo ada kemauan pasti ada jalan, apalagi sekarang udah zaman canggih semua informasi ada di fingertips, asal rajin nyari aja.

Di postingan-postingan selanjutnya gue akan bahas itinerary masing-masing kota. Mudah-mudahan ga males bikinnya, haha 😀 See you!