Self-Arranged Trip to China: Some tips before you go

Preambule

Dua bulan lalu gue pergi ke China tanpa ikut tur, cuma berdua sama kakak. Awalnya sempet takut juga sih karena kata orang-orang, susah banget pergi sendiri ke China. Tulisannya cang cing cong ga jelas, makanannya haram, informasi ga lengkap, dll. Well, personally, dari semua negara yang udah gue kunjungin, China memang salah satu negara yang paling susah buat ‘ditaklukkan’ 😀 but seriously, bisa banget kok survive di sana. Yaa walaupun mungkin gak segampang Jepang tapi sebanding lah, kalo udah berhasil travelling sendiri ke China pasti jadi pede untuk jalan-jalan ke negara lain, hehehe.

Berikut beberapa tips yang gue pelajarin dari trip kemaren, siapa tau berguna buat yang mau travelling ke China 😉

1. Mau ngunjungin China bagian mana?

China bagian mana
Bell Tower di Xi’an

Ini penting banget karena China itu LUAS yah bok! Gak mungkin lo dapet semuanya dalam sekali trip. For first timer sih gue sarankan untuk mengikuti rute gue: Xi’an –> Beijing –> Shanghai –> Hangzhou. Ini kota-kota yang “China banget”, dapet wisata sejarah+budaya, wisata alam, dan wisata metropolitan, so I highly recommend it. Gue cukup puas 10 hari muterin 4 kota itu, walaupun jadwalnya agak padat karena pengen dapet semua places of interest 😛

Kota lain yang suka jadi tujuan biasanya Chengdu, Zhangjiajie, Guilin, Huangshan, Yunnan, Harbin, dan Tibet. Tapi ribet ngurus visa nya kalo Tibet.

2. Bikin visa China

Bikin visa China cukup gampang, bisa datang sendiri dan pesen Single Entry – Regular Application dengan biaya Rp 540.000 dan selesai sekitar 4-5 hari kerja. Persyaratannya monggo di-Google 😛 yang paling penting adalah:

  • Itinerary (tanggal berapa kemana) harus dilampirkan
  • Tiket pesawat udah dibeli dan PDFnya diprint
  • Hotel udah dipesen, bukti reservasinya lampirin

Karena gue males ngurus bolak-balik Jakarta, akhirnya pake biro jasa. Worth it sih, gue bayar Rp 575.000 aja per visa di Dwidaya Tour Bandung. Selesainya sekitar 1 minggu.

Oiya visa China itu cuma buat Mainland China. Jadi lo gak bisa pake visa ini untuk ke Hong Kong, Macau, Taiwan, dan Tibet.

3. Hotel atau Hostel?

Gue pribadi lebih nyaranin tinggal di Hostel daripada Hotel. Kenapa? Simply karena orang China jarang banget bisa bahasa Inggris! Bahkan gue pernah baca suatu blog yang orangnya nginep di well-known chain hotel dan susah berkomunikasi sama resepsionisnya. Hostel di China biasanya memang lebih banyak dihuni sama foreigners, jadi resepsionisnya rata-rata anak muda yang bisa ngomong Inggris.

Dari review-review, kebanyakan hostel disini agak jorok, jadi gue kemaren takut nginep di Dorm Room. But the private rooms juga gak mahal kok, walaupun out of a backpacker’s budget. Bagi 2 sama kakak, total pengeluaran gue untuk akomodasi nyaman selama 10 hari cuma 1.5 juta 😛

Hostel
Private Room di Han Tang Inn, Xi’an

Hostel di China harganya berubah-ubah tergantung musim. Di peak season (April – Oktober), harganya bisa 2x lipat dari low season!

Semua hostel yang gue tempatin kemaren recommended (horeee!). Bersih, lokasinya sentral, <500 meter dari subway/halte bus, deket sama convenience store.

  • Xi’an: Han Tang Inn Hostel –> favorit banget! Baca aja review TripAdvisornya
  • Beijing: 161 Hotel –> ini bukan hostel sih sebenernya tapi entah kenapa masuk listing di situs pencarian hostel. Di sebelah hotel ada restoran halal lho.
  • Shanghai: Mingtown Nanjing Road Youth Hostel
  • Hangzhou: awalnya di West Lake Youth Hostel, tapi ternyata dia sudah tutup padahal lokasinya bagus banget deket Leifeng Pagoda 😦 akhirnya ke Mingtown Hangzhou International Youth Hostel
20160329_152332
West Lake di Hangzhou

4. Transportasi

Kalo di Xi’an, cari hostel deket Bell Tower. Sumpah lo tinggal jalan kaki aja ke hampir semua major attraction. Cape sih, tapi biar kurus dan sehat 😛 dan ada naik bus dikit paling ke beberapa tempat. Di Beijing, sebisa mungkin cari yang deket Subway dan cari yang gampang transfer ke Line 1. Banyak naik bus juga. Di Shanghai, carilah yang dekat Nanjing Road/The Bund, itu tinggal jalan banget kemana-mana. Naah kalo di Hangzhou ini agak tricky. Berhubung major attractionnya adalah West Lake dan danau itu jauh dari pusat kota plus GEDE BANGET TOLOOONG, option yang paling memungkinkan adalah sepeda dan jalan kaki sampe gempor (hiks). Tunggu cerita gue tentang masing-masing kota ini di postingan2 selanjutnya! 😀

20160322_125540
My twin brother and I at Terracotta Warrior

Transportasi di dalam kota

Ketika naik Subway, pastikan keluar dari Exit yang tepat supaya gak muter-muter. Bisa pake petunjuk Google Maps atau liat jalan yang deket tujuan kita di neon board.

Subway di China sangat ketat pengamanannya, selalu ada security scanner kayak di airport. Tapi bawa koper besar masih bisa kok, apalagi kalo tampang kita innocent, ga bakal ribet ditanya-tanya. Hehe. 😀

Transportation 1
Kakak gue di dalam Subway Beijing

Untuk naik bus, tunggu di bus station terdekat dan cari nomor bus yang dituju di papan. Kalo ada bus datang, liat neon sign di depan, ada nomor busnya (misalnya 602). Biasanya gue cari dulu di Google Maps, hitung perhentian kita ada di perhentian ke berapa, lalu hitung sendiri waktu di dalem bus. Soalnya semua tulisannya ga bisa gue baca, dan loudspeaker nya juga bahasa Mandarin. Di tempat-tempat populer, kadang ada beberapa bus stop. Selalu cek nomor bus terlebih dahulu di papan petunjuk.

Transportasi antar kota

Dari satu kota ke kota lain, bisa naik pesawat (maskapai lokal) atau kereta. Surprisingly, harganya kadang gak jauh beda lho. Sama-sama mahal. Hiks :(.

Jenis-jenis kereta dan kelasnya bisa diliat di sini.

Stasiun kereta di China ini gedeee banget kayak airport. Security systemnya juga kayak airport, jadi gue sangat menyarankan untuk datang ke stasiun 2 jam sebelum keberangkatan. Karena banyak banget pemeriksaannya.

Transportation 3
Stasiun kereta di Beijing yang gedenya kayak airport

Untuk menghemat biaya akomodasi, gue pake Soft Sleeper dari Xi’an –> Beijing dan Beijing –> Shanghai. Dari Xi’an itu gue dapet kereta T (kelas bisnis kali ya kalo di kita), jadi kasurnya agak keras. Kalo dari Beijing gue dapet kereta D, kasurnya empuk, lebih lebar dikit dan selimutnya fluffy~

5. Outfit + Cuaca

Jadi ternyata saudara-saudara, AccuWeather di hp itu tidak akurat! 😦 Gue pergi ke China akhir Maret. Waktu di Indonesia, si AccuWeather bilang Xi’an siang-siang 21 derajat Celcius. Ih gile kayak Bandung jaman baheula kan. Ternyata oh ternyata pas nyampe China, suhunya sekitar 12 derajat plus angin-angin setan yang bikin kakak gue langsung pilek 😦 untungnya pengalaman gue dengan winter mengatakan bahwa lebih baik overdressed daripada kedinginan, jadi gue udah bawa winter coat dan banyak sweater, which helped a lot! Selama masih winter/spring juga sering hujan, jadi bawalah payung.

Outfit 1
Kalo di selatan (Shanghai / Hangzhou) lebih anget, pake jaket juga cukup

Gue sarankan liat AccuWeather dari PC biar lebih detail, bisa juga liat ini. Buat cewek, bisa liat ini dan ini untuk referensi outfit.

Outfit 2
Kalo di utara (Xi’an, Beijing) lebih dingin, ini gue pake winter coat pun masih dingin :’)

Pakailah sepatu dan baju yang nyaman. Trust me, it works. Karena……… (jreeeng)

6. Nyusun itinerary

Taman, istana, temple, museum, dan hampir semua tourist spot lainnya di China adalah SANGAT LUAAAASSSS. Capek, capek banget sumpah ngejalanin semuanya tuh bagaikan menjalani kehidupan ini *tsah. No kidding. Orang China ini setiap Dinasti nya pengen bikin bangunan yang remarkable, jadilah semua dibangun dengan megah.

Itinerary 1
Temple of Heaven – Beijing. Untuk mencapai tempat ini tuh harus ngelewatin taman gede dan jalan jauuuh….

Untuk muterin 1 tempat aja perlu waktu tidak kurang dari 2 jam, jadi buatlah itinerary dengan mempertimbangkan semua ini. Belom lagi kalo ribet cari pintu keluar, salah keluar subway, nyasar, dan udah keburu gelap jadi takut mau ngeeksplor. Huft.

7. Makanan

This is it! *nyam nyam*

Menurut gue, regardless of Muslim atau nggak, cari makan di China itu gak susah kok. Di Xi’an, salah satu top attractionnya adalah Muslim Quarter yang deket sama Drum Tower. Sepanjang jalan ini, semua makanannya halal. Beijing juga banyak makanan halal (ditandai dengan papan restoran yang warna ijo tua atau ada tulisan Arab nya).

Food 2
Mie super asin di Muslim Quarter -__-

Tapiii kalo di Selatan (Shanghai dan Hangzhou), memang agak susah cari restoran halal. The best I could do adalah makan KFC/McDonalds/Yoshinoya, dan beli makanan pak yang dipanasin di microwave di convenience store (setelah dengan susah payah nanya pake isyarat tangan sama kasirnya apakah ini daging babi atau bukan….).

Food 3
KFC di Nanjing Road, Shanghai. Jangan ngarepin ada menu nasi ya, hahaha

Dimsum udah hampir bisa dipastikan isinya daging babi, kecuali mungkin mantau yang manis dan ga ada isinya. Kalo typical Chinese food, kayak semacam sapi/ayam lada hitam, gue sih gak saklek ya, asal bukan babi gue makan-makan aja. Entah bumbunya atau minyaknya pake yang haram atau nggak 😦 Alternatif lain adalah pesen menu vegetarian, biasanya sih aman, tapi jarang ada option ini.

Food 1
Sharing Chinese food sama strangers di Xi’an

8. Komunikasi

Poin terakhir dan yang paling penting adalah komunikasi. It didn’t help that my brother and I looked A LOT like Chinese, jadi diajak ngomong Mandarin mulu, malah ditanya alamat di Shanghai dan diminta KTP China sama security di Xi’an 😦

Orang China itu jarang banget yang bisa bahasa Inggris. And I have to add, mereka tidak terlalu ramah. Bukan tipe yang bisa diminta fotoin di spot lucu, dan jalannya terlalu cepet untuk dihentikan dan ditanya arah.

Kalau lo cuma bisa ngomong Xie xie doang kayak gue, life will be tough. It will. Tapi bisa disiasati dengan cara:

  • Selalu bawa tulisan alamat hostel dalam bahasa Mandarin. You’ll never know kalo tetiba nyasar dan harus nanya arah pulang.
  • Siapkan tulisan “Ayam”, “Sapi”, “Babi”, “Udang”, “Cumi”, kalo nyari makan dan ragu itu babi atau bukan, tanya pake bahasa isyarat sambil nunjuk tulisan.
  • Likewise, tulisan “Bus stop” dan “Subway” juga penting.
  • Last but not least, inilah kertas ajaib penyelamat semesta alam:
20160501_122457
Kertas ajaib! 😀

Internet Censorship

Ini poin super duper penting yang sering terlupakan. China mensensor hampir semua kebutuhan internet kita… yang without it we cannot live *lebay*. Wi-Fi hotel gak guna dah. Semua produk Google (Chrome, Maps, Gmail, Youtube, dll), WhatsApp, Line, Instagram, dan social media lainnya di-block. Katanya sih Path dan Yahoo bisa, tapi entah kalo sekarang di-block.

Berhubung gue gak se-petualang itu sampe bisa jalan-jalan tanpa Google Maps, gue mensiasatinya dengan cara langganan paket internet dari Indonesia. Gatau ya kalo operator lain, kemaren sih gue pake Telkomsel alhamdulillah lancar, gak ada sensor-sensoran. Mahal memang, selama 10 hari abis pulsa 700 ribu… tapi yah, gimana lagi? Daftar paketnya di *266# lalu ikutin aja petunjuknya. Pas di China, pilih operator China Unicom, koneksinya lebih stabil dan kenceng. KECUALI di Hangzhou. Itu gue udah putus asa karena semua operator sinyalnya E, dan hilang-hilang timbul. Sedih 😦 Kalo di 3 kota lain sih lancar jaya aman sentosa.

————————————————————————-

Okee sekian tips jalan-jalan ke China dari gue. Intinya kalo ada kemauan pasti ada jalan, apalagi sekarang udah zaman canggih semua informasi ada di fingertips, asal rajin nyari aja.

Di postingan-postingan selanjutnya gue akan bahas itinerary masing-masing kota. Mudah-mudahan ga males bikinnya, haha 😀 See you!

Cruising The Altitude

Airports fascinate me in a lot of unspoken ways. The feeling of watching airplanes taking off beside the thick wide glass of boarding room almost always make my heart jolts with excitement. There is a certain atmosphere that airports bring — they are home to some of the most sincere goodbyes, spectator of willingness to release someone dear into the unknown skies, and a theater of honest kisses blown to the air. Airports are about departure and arrival, the fast-paced shoes of businesspeople and the joy of a loving child. The beautiful mix of feelings in one single space. Much like the real life. 

Image’s taken from here

For me, airports resemble more than just a transportation facility where people come and go. As someone who was not raised in a particularly wealthy family, hopping to an airplane was indeed a luxury. During my childhood, I had to spend so much time going through road trips to get somewhere. I always asked my mom if our family could try travelling by airplane, but I knew she would say it was too expensive for all of us. Like every other luxury my family couldn’t afford, at that time I could hear mom’s voice resonating,

“Believe me, my child, your brain will take you anywhere you wish”

You know what?

She was right. 

The first time I boarded a plane was in January 2011, going to Eastern part of Indonesia for a national varsity debating championship. I still remember that feeling of excitement mixed with I-think-I’m-gonna-puke inside a not-so-good airplane of the first flight in the morning. Kinda like being in a roller coaster while taking off, my heart was swelling with oh-my-gosh that I tried to hide from friends.

Ever since then, airplanes continued to take me into some of the best moments of my life. I could picture that clearly, vividly, the memory that goes up to the surface every time I see an Etihad plane parking on Terminal 2 of CGK airport. 4 pm flight to Abu Dhabi, that would carry my New York City dreams up to the air, my very first overseas flight, 32 hours in total.

Still one of my favorite airlines. Delicious and halal meals, friendly stewardess, smooth landing. My very first overseas trip.  Image Source: here

I never boarded Etihad since then, but it remains one of my favorite airline. I remember the friendly stewardess greeted me, I was having cough, and she attentively offered me another cup of hot drink. We met again on the way when I was going to the toilet, and chatted on how people were not easily pleased even by various choices of menu available. I told her that people were always unsatisfied like that, and we laughed together 😀

It’s funny how you can associate a certain part of your life just by looking at an airplane.  

I was rushing on catching a Garuda Indonesia flight when my eyes caught a glimpse of a Cathay Pacific being parked. As melancholic as I always am, the laughter of my mapres friends came to my ear like a jingle. Jakarta – Hong Kong – Nagoya. Then another flight back from Tokyo. The gleaming lights, the busy streets, the bullet trains, stranded on the super clean streets at 2 am after missing our last bus back to the hotel. Our Toyohashi friends, mixed with streams of Kit Kat Green Tea supplies…

You will always bring me back to the days in Japan 🙂

Soekarno-Hatta International Airport is home to some of my most memorable departures and arrivals.

The fight with my ex-boyfriend before I boarded a Singapore Airlines flight to Manila. Two girls giggling with their extra-heavy luggages on Airport Transit Hotel, woke up super early while catching the first flight to Singapore that would take Team Indonesia to the city of Hanoi. Four nista youngsters boarding the cheapest AirAsia flight we could find from Jakarta to Bangkok. Every time I come to CGK, I can still picture the places precisely, every corner hides another story that I could recall from the back of my head.

My Manila, my Singapore, my Hanoi… wrapped up in one single glimpse of this carrier.
My Bangkok with nista gank!
My Bangkok, now my Pekanbaru – Bandung best friend

From a homey kid who never boarded any plane since age zero, I turned into a frequent flyer with various destinations to go.

Times change and airplanes change. People morph over time — leaving their loved ones while pursuing their own dreams. I’ve moved from Bandung to Duri, where my limited stay at home makes the journey even more meaningful. What used to be rare international flights have changed to frequent domestic flights to hold the ones close to the heart. Garuda Indonesia and AirAsia have helped me in transporting to the people I care about the most, the people I would not trade for any gems.

My Surabaya business trips and my trip back home.

 

Airplanes have witnessed my struggle of getting to be where I never thought I could be. My proud parents who could never make me go to another country by their own money. The altitude combines some of fondest memories, best friends, and most exciting journey into the take offs and landings that I will always be excited for.

 

Here’s hoping for more life stories through the air! 🙂

 

 

Write Down Your Dreams….

because they’ll come true.

When I entered ITB 4 years ago, I didn’t have any passport. I was asked why, and I said I wouldn’t have any money to go abroad. I didn’t come from a wealthy family. I hadn’t even been on a plane for once in my life at that time. But I dreamed of these two things:

1. To visit 5 countries during my university years. (Why 5? Because I was born on 5th day of the month, haha)

2. To step my feet in New York, Paris, and Tokyo.

In the end of my university years, I realize that I’ve reached the 1st dream. I’ve gone to USA, Thailand, Vietnam, Japan, and (will soon be, hopefully) Netherlands.

all free of charge.

As with #2, I failed to reach Paris in the last selection step. It was bitter, especially because the whole selection process was full of struggle for me. But then again, I’ve been to New York, and it’s something to be very thankful for. Who knows that one day in July, after I was so devastated and blamed God for everything, I got a phone call informing that I’d be sent to Japan, all expenses paid.

I went to Tokyo at the very last day. In front of Senso-ji Temple, Asakusa -one of Tokyo’s landmarks- , I thanked Allah for fulfilling this dream of mine that I thought might as well be given up.

Image

In August, it was announced that I’d been given a prize to go to Netherlands, 3 months, and I could choose when I’d want to go and for what purpose. I’ll talk to the representative this Thursday, hope everything’s gonna go smoothly.

And I once thought, going to Netherlands would be Allah’s way of sending me to Paris, one of the cities I dreamed of visiting. He made me failed in that selection, but He had already prepared another way for me to reach my dream.

There’s a tremendous amount of gratefulness, and guilt, and shame, that’s wrapping me around now. The guilt that I blamed Allah for a lot of unsuccessful things in my life. The shame that I didn’t believe in the power of dreams and His promise that He will always grant His believers’ will, in His own way that is much, much better than human being’s. The gratefulness that comes with this fortune. Alhamdulillah.

So which of the favors of your Lord would you deny?

QS. Ar-Rahman

I still have life to pursue, a life which I hope and believe is an even better one. The uncertainty that clouds my happiness, and the feeling of “haven’t landed somewhere safe”. Crossing these two dreams of my freshman year, I’ll continue by dreaming some more, and believing that they will come true.

By Allah’s grace and by Allah’s will. Insha Allah.

Bangkok: An Exciting Mixture of Modernism and Traditionality

Buka foto-foto lama itu bahaya. Misalnya…gue jadi kangen Bangkok all of a sudden. Terus kepikiran kenapa gak pernah ngeblog tentang perjalanan ke negeri orang ya? So there goes this post.

Gue ke Bangkok almost 2 years ago, August 2011, dalam rangka Japan-Asia Young Scientists and Engineers Study Visit (JAYSES). (Almost) all expenses paid, thanks SKF! Selain berkesempatan pertama kali ke Thailand dan pertama kali puasa gak di Indonesia, JAYSES juga membuat gue ketemu Reinhardt, Nana, dan Gama. Dari mulai  ‘blind date’ di McD Simpang, riweuh bolak-balik ke Pak Djoko (dosen Mesin senior, pembimbing kita), sampe video conference yg fail abis dimana gue, Reinhardt, dan Gama lagi joget-joget ga jelas dan taunya si video udah nyambung sama orang Jepang. -____- It didn’t stop there! Sampe di Bangkok pun kita seru-seruan sama berbagai macam orang and got to explore this very exciting city 😀

First Impression

  • Suvarnabhumi (bacanya “Suwannapoom”) International Airport GEDE dan BAGUS BANGET. Blah CGK ketinggalan jauh!
  • Sekilas, Bangkok mirip banget sama Jakarta. Highwaynya sama, iklannya setipe. Tapi disini ada BTS sama MRT. Jalannya itu anatominya: ada 1 jalan gede yg punya “gang”-gang kecil, nah di gang itulah kehidupan Bangkoknya.
  • 711 banyak banget yah mirip-mirip Alfamart sama Indomaret di kita lah.
  • Makanannya…..babi semua .__.
  • Very colorful taxis. Orange, pink, kuning, merah, ijo nyala..
DSC03876 - Copy
Welcome to Suvarnabhumi!

 

Berhubung acara ini semacam field trip, gue ngunjungin provinsi-provinsi di sekitar Bangkok juga. Ke Betagro (semacam Kemchick, supplier daging), Thai-Nichi Institute of Technology, JETRO, JICA, International Trade Court, Department of Intellectual Property, SCG Experience yang zuper futuristik dan inovatif kyaa!,  ya dan lain-lain lah. But let’s focus on Bangkok now. Bangkok panasnya ampun-ampunan (35 oC), mana lagi puasa pula. Dibutuhkan keimanan yang tinggi yah bung untuk survive. THAILAND ISINYA BABI SEMUA! Ga ngerti deh knapa org sini demen bgt makan babi. Mana tulisan menunya cacing-cacing semua lagi huruf Thai..

 

The Modern Side

Bangkok is a lot like Jakarta in terms of mall. Banyak yah mall-nyah. Ada 1 kawasan yg isinya mall-mall gede, diantaranya:

  • Siam Paragon

Konon katanya mall terbesar se-Asia Tenggara. Barangnya relatif mahal dibanding tempat lain. Ada Underwater World juga di dalem mallnya :O dan di sinilah gue ketemu… MARIO MAURER! Siapapun yang udah nonton Crazy Little Thing Called Love pasti iri kan sama gue #eaa

P’ Shon: for real!
  • MBK (Mah Boon Krong)

Tipe mall-nya mirip-mirip BIP  gitu lah kalo di Bandung. I love MBK! Makanan banyak, enak, murah. Ada restoran halal (beneran bersertifikasi halal), kalo mau beli oleh-oleh makanan Thailand yg kering-kering gitu juga bisa di sini.

  • Pratunam

TOTALLY A HEAVEN FOR GIRLS. Nyesel banget kenapa cuma beli 2 baju dan yang 1nya luntur kecuci di rumah. Kalo pinter nawar, baju yang normalnya Rp 120 ribu bisa jadi Rp 70 ribu saja! Yang demen baju online shop juga wajib banget ke Pratunam. Untungnya waktu itu ke sana sama temen orang Indo yang bisa bahasa Thailand, jadi nawar sampe setipis-tipisnya wekekek 😛

  • River City

Sebenernya waktu itu cuma lewat teras mall ini doang terus langsung nyari kapal hehe. A must lah nyoba naek kapal di Chao Phraya River, to see Bangkok’s pretty lights at night. Bayarnya paling cuma 20-30 Baht.

Hi!
Hi!

 

The Traditional and Touristy Side

Here comes the exciting part! Gak kayak Jakarta yang (menurut gue) sisi tradisionalnya kurang ke-preserve, Bangkok menawarkan berbagai macam hal menarik yang menunjukkan kalo orang Thailand sangat cinta budayanya 🙂

  • Chinatown!

Kalo mau naek MRT, berenti di Hua Lamphong Station, jalan dikit langsung keliatan gate-nya. Having gone to New York’s Chinatown, I have to say dimana-mana Chinatown gitu-gitu aja ya. Susah mau menikmati Chinese food karena babi semua juga. I ordered rice with Roasted Duck (only 50 Baht!). Tapi ternyata porsinya keciiiiiiillll banget dan roasted ducknya rasa jahe ga jelas -____- but we did went to Wat Traimit Witthyaram di Chinatown ini, lumayan liat kuil. Try Shark’s Fin soup (roughly 650 Baht) kalo banyak duit 😀

DSC03977
Welcome to Bangkok’s Chinatown!
DSC03968
Wat Traimit yang sayangnya lagi tutup

 

  • Grand Palace

Yaya of course. Jangan percaya sopir tuk-tuk ato native ga jelas yang bilang Grand Palace tutup soalnya itu cuma tukang tipu, cek aja kapan sebenernya si Grand Palace ini officially buka. Siapkan fisik yang kuat yah kayak mau naek Candi Borobudur! Ke sini pas lagi puasa itu…sesuatu. Sampe literally mau pingsan, kepala pening! Tapi bahagia luar biasa karena berhasil gak batal dan buka puasa di restoran halal di MBK, minum Thai Tea jumbo dan curry yang super enak, hiks :’)

Multicultural experience in Bangkok’s landmark
  • Ladyboy Show! 😀

Tadinya gue mikir apaan sih liat show banci. Tapi ternyata seru banget ngakak ga berenti-berenti wekekek, walaupun sebenernya banyak yang vulgar gitu sih. Normalnya tiket mahal beut 800 Baht, tapi karena koneksi orang dalam akhirnya dapet 100 Baht saja per orang \m/ FYI banci Thailand cantik-cantik sih kalo yg di show ini, jago dipermaknya.

DSC04073
Nih temen gue orang Jepang lagi diseret ke depan 😀
  • Jim Thompson’s House

Yang suka kain sutra, rumah tradisional Thailand, museum dan sejarah pasti suka ke sini. I found the house elegantly calming dan historis. Lokasinya gak begitu jauh dari keriuhan MBK and Siam Paragon (well…”gak jauh” standar kota besar yah).

DSC04193
See, this is why I like the house
  • Chatuchak Weekend Market

Sebagai cewek normal, gue sangat suka shopping, tapi shopping yang bermanfaat bukan sekedar hambur-hambur duit. Being wanita Sumatra juga bikin gue kalo ke luar negeri repot cari oleh-oleh buat keluarga besar. Chatuchak is the biggest traditional market in South East Asia…and I know why. Emang gede sih segala macem bisa ditemui disini. Makanan kaki lima, suvenir (notes, gantungan kunci, tas, pernak-pernik, kain, patung, porselen, you name it ajalah).

Harga super murah tentunya, apalagi dengan skill nawar perempuan Indonesia yang jauh di atas rata-rata orang Asia lainnya (terbukti juga waktu gue ke Hanoi). Sayangnya ini cuma buka pas weekend, but it’s really worth visiting ga cuma buat cewek tapi juga buat siapapun yang mau liat sisi tradisional masyarakat Bangkok.

 

Food and Some Tips for Fasting

Ah yes, FOOD. Di Bangkok harga makanan murah meriah! Makanannya pun enak tapi generally lebih asam dan rasa bumbunya kuat dibanding makanan Indonesia sehari-hari. Thai Tea dimana-mana enak….enak banget huaaa. Di 711 pun bisa beli Thai Tea ukuran jumbo yang cuma 60 Baht saja. Ukuran standar di pinggir jalan bisa 30 Baht, masuk mall jadi 50 Baht.

As always, Tom Yam Goong is A MUST. Gue nyoba Tom Yam di kantin univ Chulalongkorn, dan itu pun udah….divine. Parah sih pas masuk mulut panas, asem, sedikit pedes tapi serasa ada efek therapeuticnya gitu lho.

DSC03902
Tampilan boleh kayak lontong kari, tapi asem mak!

Berhubung gue ke Bangkok pas bulan puasa, ada beberapa hal yang membuat gue bertahan puasa di tengah cuaca Bangkok yang panasnya subhanallah.

  • Buat makan saur, paling gampang cari chicken di 711 makanan yang udah di-pak, langsung dipanasin di microwave dan makan. Gak semua 711 buka 24 jam so siap-siap beli malem-malem dan makan dalam keadaan dingin. (15 Baht)
  • Kalo pencernaan udah mulai rewel, beli Activia aja cuma 10-15 Baht, dapet yogurt gede.
  • Banyak minum. Gue sampe beli Nestle Pure Life yang 6 liter buat 2 hari supaya gak dehidrasi.
  • Perhatiin jadwal shalat, imsak, maghrib, karena saur bisa lebih lama tapi buka puasa udah deket jam 7 malem.
  • Banyak berdoa supaya ga makan babi 😀

 

That’s all of my Bangkok story. Dulu sebelum berangkat gue rajin baca blog orang biar tau keadaan Bangkok, and I hope this writing will help anyone yang clueless tentang Bangkok, hehe. I’m definitely going to Bangkok again if I have any chance. Or anywhere deh asal pergi ke luar negeri lagi mihihi 😀

 

Toodles!